JAMAN
HINDU
Peradaban
manusia di Lebakherang telah ada sejak lama hal ini dibuktikan dengan adanya
patilasan ( peningalan sejarah ) berupa patilasan atau makam yang dipercaya
sebagai makam Ratu Bungsu dalam cerita sunda Ratu Bungsu cenderung mengarah
pada tokoh cerita pantun “ Lutung Kasarung “ dimana dalam lakon itu
deiceritakan bahwa seorang putra Mahkota
pajajaran berkelana mencari Jodoh dengan seorang wanita yang berwajah mirip
ibunya, iapun pergi meninggalkan kerajaan dan menyamar menjadi orang biasa, dan
sampailah ia di kerajaan pasir luhur dimana Rajanya mempunyai seorang putri
kerajaan yang cantik jelita Konon bernama Purba sari. Dari kisah itu dapat
disimpulkan bahwa kepercayaan masyarakat Lebakherang akan petilasan Ratu Bungsu yang terletak di puncak Gunung
Rabuk itu, dapat diperkirakan muncul pada masa kerajaan Pajajaran atau Galuh
berkuasa di tanah Sunda, dan itu dapat diperkirakan terjadi pada tahun
1297-1579.
Dari bukti
sejarah patilasan Ratu bungsu sebelum mengalami renopasai masyarakat yang
sering berjiarah menemukan adanya peninggalan berupa perkakas yang terbuat dari
batu dan lumpang.
Belum bias
dipastikan apakah pada masa itu sudah ada peradaban di Desa Lebakherang atau
kehidupan manusia pada waktu itu, tapi setidaknya dengan adanya bukti sejarah
tersebut minimal dapat diketahui bahwa pada waktu itu sudah ada tanda tanda
bahwa pada jaman itu wilayah lebakherang sudah mulai dikenal oleh manusia
walaupun tidak menetap atau berbudaya layaknya kelompok masayarakat yang
berdiam.
Jika kita
hubungkan patilasan ratu bungsu dengan sejarah sunda dapat diperkirakan terjadi
pada masa jayanya kerajaan Pajajaran yang berkuasa mulai tahun 1297-1579 M atau
pada masa pemerintahan Demunawan di Saunggalah ( Kuningan sekarang ) atau pada
masa sang Aria Kuku yang mempunyai ajian dangiang Kuning raja kecil di wilayah
Kuningan Dulu. Tapi itupun belumlah kuat karena belum ada penelitian dan sumber
sumber sejarahpun tidak pernah menyebut nama tempat lebakherang .
JAMAN KEISLAMAN
Berbicara
tentang sejarah Lebakherang yang perannanya tidak begitu berarti pada masa
lalunya sangatlah sulit untuk di paparkan para tetua atau pinisepuhpun bingung
menceritakan hal ikhwal adanya pemukiman Desa kita ini. Tetapi masih beruntung
para leluhur kita itu mewariskan kepada kita tentang perjalanan hidupnya
walaupun hanya berupa makam atau nama yang dikenal orang sejak dulu.
Dua buah
makam yang diyakini sebagai makam leluhur di Lebakherang memberikan setidaknya
gambaran perjalanan leluhur kita pada waktu itu. Dua buah makam yang diyakini
sebagai makam “ Eyang Dalem Samiulin “ dan “ Eyang Dalem H. Akrimudin “
setidaknya menjelaskan kepada kita bahwa leluhur kita itu hidup pada masa itu
dan dari namanya jelas menunjukan bahwa Beliau itu hidup dan menetap di
Lebakherang ini pada masa perkembangan Agama Islam di nusantara.
“ Eyang
Dalem H Akrimudin atau Salimudin Samiulin “ Dari bahasanya nama ini menunjukan
atau menceritakan sesuatu yang perlu kita kaji dan kita telaah, selama ini
wacana yang berkembang di masyarakat Eyang Dalem itu adalah karuhun yang
melindungi kampong dari marabahaya. Seandainya kita kaji lebih jauh.
Kata.“
Eyang “ dalam bahsa sunda Mengartikan
seseorang yang Usianya lebih Tua aki atau buyut dan lebih spesifik eyang itu
adalah orang tua berilmu yang disegani dan dihormati.
Kata “
Dalem “ berarti orang terhormat pada waktu itu Dalem sama dengan Gelar
kehormatan bagi keluarga Keraton / kerajaan jawa setidaknya adalah abdi
kerajaan.
Sedangkan
kata atau nama “ Akrimudin “ atau “Samiulin “ menunjukan bahwa orang tersebut
beragama Islam sebab dari lapal katanya menunjukan adanya unsur serapan bahasa
Arab dalam nama itu.
Tapi kapan
dan siapakah kedua tokoh ini sebenarnya hidup? Tidak ada yang tahu pasti mengenai
tokoh ini, tetapi dari bukti peninggalan sejarah berupa makam dan nama yang
begitu melegenda dapat di perkirakan kedua tokoh ini hadir di Lebakherang pada masa penyebaran Islam di
tanah jawa bisa diperkirakan kedatangan Eyang Akrimudin dan Samiulin ini
berkaitan dengan Penyerangan Tentara kerajaan Mataram Islam ke Batavia pada
masa Pemerintahan Sultan Agung tahun 1615-1645 ( Sundakala Karya Ayat Rohaedi
). Tetapi penyerangan tentara mataram ini mengalami kegagalan karena kokohnya
benteng pertahanan Belanda di Batavia, akibat dari kekalahan ini sultan Agung
murka dan menghukum para prajuritnya yang kembali ke mataram, karena takut akan
hukuman Sultan Agung banyak para prajurit kerajaan mataram yang kemudian
menetap dan tinggal di daerah sunda khususnya Cirebon Indramayu. Bukan tidak
mungkin untuk menghindari hukuman Sultan Mataram dan kejaran Musuh yaitu
belanda para prajurit ini mengungsi ke daerah pedalaman / hutan dan mendirikan
perkampungan, dan salah satunya yaitu Eyang Dalem Akrimudin dan Samiulin yang Tinggal
di wilayah Pegunungan Rabuk yang kemudian berkembang menjadi Desa Lebakherang.
Alternatip
lainpun muncul Eyang Akrimudin Dan Samiulin datang ke Lebakherang dalam misi
penyebaran Islam atas perintah Sarief Hidayatulah atau Sunan GunungJati dalam rangka
mendesak kedudukan Kerajaan Pajajaran Dan Galiuh sebagai penganut ajaran Hindu.
Tapi itu terlalu jauh sebab Hancurnya kerajaan Galuh terjadi pada tahun 1579 M
sedangkan Keberadaan peradaban di desa Lebakherang tercatat dalam Pemerintahan
mulai Adanya Aparat Pemerintahan yaitu Kuwu mulai Tahun 1825 M dengan jumlah
penduduk masih relativ sedikit.
JAMAN PEMERINTAHAN PRA
KEMERDEKAAN
Masih
adanya keturunan generasi ke tiga dari buyit akrim pejabat pertama pemerintah
perkampungan desa lebakherang sedikit memberi terang akan runtuta sejarah sejak
dimulainya kepengurusan Buyut Akrim dimasa itu. Buyut Akrim bukanlah penduduk
asli Lebakherang melainkan seorang perantau sebahagian orang mengatakan berasal
dari daerah Galaherang Maleber sebahagian lagi menyebut berasal dari Luragung.
Dalam perjalannya itu ia berjodohdengan salah seorang asli Lebakherang namun
tidak diketahui dengan pasti siapa namanya. Iapun dipercaya memimpin Desa
Lebakherang dan menjadi kepala Desa Lebakherang yang pertama yaitu pada tahun
1825 - 1860. Dari prkawinannya itu ia memiliki empat orang anak diantaranya
yaitu :
1.
Wakiah,
yang dikemudian hari melahirkan keturunan dan berdomisili di Desa Patala diantaranya
bernama Suhari dan menjadi kuwu di Desa Patala, kemudian anak keduanya yaitu
2.
Embok
Uya, Mempunyai anak yaitu :
·
Asri
( Enci )
·
Wasti
·
E.
Sami
·
E.
Harni
·
E.
Ajem
·
E.
Supi
·
Bapak
Uya
3.
Embok
sampan, Mempunyai anak yaitu :
·
Embok
Sarmi
·
Bapak
Dawa
·
Bapak
Karsam
·
Embok
Arti
·
Bapak
Sampan ( Bapak Barang )
4.
Bapak
Jamiran yang kemudian melanjutkan tampuk kepemimpinan menjadi kepala Desa pada
tahun 1860-1893. mempunyai anak yaitu
:
·
Embok
Ijoh
·
Ibu
Runtah yang migrasi ke Cipakem
Selain
menikah dengan istri pertama, Buyut Akrim juga menikah dengan Asrita istri keduanya, tidak disebutkan
apakah mempunyai istri kedua itu karena cerai atau ditinggal mati ataukah beristri
Dua. Dari istri kedua yang bernama Asrita
itu Buyut akrim mempunyai 7 (tujuh) orang anak yaitu ;
1.
Ibu Sumarmi yang kemudian menikah
dengan Bapak Bekut ( Baskat ) dari Balandongan dan dipercaya
menjadi Kepala Desa Lebakherang melanjutkan Bapak jamiran. Sayang dari kedua
pasangan ini tidak dikaruniai keturunan.
2.
Bapak Kasban yang mempunyai anak
yaitu :
·
Bapak
Armat
·
Ibu
Sutirah
·
Ibu
Rumsiti
·
Ijoh
·
Tarmi
·
Sukarta
·
Erah
·
Dayu
3.
Embok Kebo ( Embok Murti ) yang
mempunyai anak yaitu:
Ibu
Suparmi, Bapak Karna, Abdul Sukarya, Taryu ( Pindah ke Citundun), Mad Tohir,Sapti ( Ke Cilengkrang ), Sumardi.
4.
Embok Bit yang mempunyai anak Yaitu ;
Sastra
Dikarma, Ibu Kimi, Kanta Wirja, Embok Iboh, Sastra Amung, dan Muhyi yang saat
buku ini disusun masih hidup.
5.
Hasan Marum yang mempunyai anak
yaitu :
Bapak
Atma, Ibu Nurwita, Ibu Ruhyat ( Ke Cilimusari ), Rukma, Ibu Katmah, Ibu Enah (
istri mantra Edi ), H.O. Supardi, Bapak Supandi, Ibu Siti.
6.
Embok Suminta yang mempunyai anak
yaitu :
Ibu Siti, Jaya
Sukatma ( Pa Entah ) Sastra Suwita ( Ke Ciwaru ), Ibu Kimi ( ke Cilayung ), Ibu
Isah, Ibu Itik, Bapak Usen.
7.
Bapak Paraja yang mempunyai anak yaitu :
Ibu Tarmi
( ke Ciwaru ), Ibu Ebo ( ke Gagambiran ), Ibu Ani, Ibu Rasita, Jatiah dan Ibu Sutri.
Setelah
berhenti dari kepala Desa ( Kuwu ) tampuk pimpinan pemerintahan di Desa
Lebakherang dilanjutkan oleh Bapak Jamiran ( tahun 1860 - 1893 Lihat table Silsilah ) Bapak Jamiran Merupakan
anak Buyut Akrim Dari Istri tuanya. Tahun 1893 Bapak Jamiran pensiun dari
Kuwunya dan digantikan oleh Bapak Bekut
suaminya Ibu Sumarmi anak Buyut Akrim, berarti Tampuk Pemerintahan Pada
Masa Itu dipegang oleh Menantunya Yang menurut Cerita berasal dari Balandongan.
Sayang dari kedua pasangan ini yaitu bapak Bekut
Dan Ibu Sumarmi tidak dikaruniai
keturunan. Kuwu Bekut Memerintah dari Tahun 1893
– 1921 M. setelah Itu Lebakherang menjadi Kampung.
MASA KEMERDEKAAN
Masa
perubahan Lebakherang menjadi kampung terjadi pada tahun 1921 M dan sebagai
Kepala Kampungnya atau Biasa Disebut Rurah adalah Rurah Sepuh atau Rurah Salim
Sastrahardja yang
memerintah pada tahun 1921 – 1960 M atau sekitar 39 Tahun. Salim Sastraharja
merupakan menantu dari bapak Hasan Marum sedangkan hasan marum adalah Anak dari
Buyut Akrim dari istri kedua dengan demikian Tampuk pemerintahan masih
berlanjut diteruskan oleh menantu.
Tahun 1960
M Rurah Salim Berhenti dari Kerurahannya dan digantikan oleh Bapak Rurah Atma yang memerintah dari tahun 1960 – 1967 M atau selama 7 tahun, Rurah
atma Merupakan Cucu Buyut Akrim dari anaknya yang bernama Hasan Malum, dengan
demikian sudah dua orang generasi dari keturunan Hasan Malum yang meneruskan
Tampuk Pemerintahan yaitu Bapak Salim Menantu dan Bapak Rurah Atma anak.
Tahun 1967
Rurah Atma Berhenti Memerintah dan Digantikan oleh Bapak Aman. Rurah Aman
adalah Buyutnya Pak Akrim, untuk lebih jelasnya mari kita telusuri dari awal :
Buyut Akrim Menikah dua kali dari istri keduanya dikaruniai keturunan sebanyak
tujuh orang, diantaranya yaitu Embok Bit, embok Bit mempunyai keturunan
diantaranya bapak Ulis SastraDikarma, Sastradikarma mempunyai anak Bernama
Aman. Rurah Aman memerintah selama 15 tahun yaitu dari tahun 1967 – 1982 M.
Tahun 1982
Desa sumberjaya memisahkan Lebakherang menjadi Desa Mandiri kembali dalam
istilah Pemerintahan Dipekarkan dan sebagai kuwunya diangkat Rurah Aman “ ANWAR HIDAYAT “ yang memerintah selama 11
tahun yaitu dari tahun 1982 – 1993 M.
Tahun 1993
setelah berhentinya Anwar hidayat dari Kepala Desa Terjadi kekosongan kepala pemerintahan
selama ± 5 Tahun yaitu hingga tahun 1998, untuk mengisi kekosongan itu maka
dijabat oleh Bapak T. Atang Rustandi.
Tahun 1998
diadakan Pemilihan Kepala Desa dan terpilih Bapak Djaswa AS sebagai kepala Desa
Lebakherang, bapak Djaswa ini merupakan anak Bapak Dawa anaknya Embok Sampan
Keturunan Bapak Akrim Dari Istri Pertama. Kuwu Djaswa Memerintah Selama 8 tahun
dari tahun 1998 – tahun 2006.
Pada tahun
2006 terjadi lagi masa transisi kekosongan Kepala pemerintahan, dan untuk
mengisinya diangkat kdus babakan Yaitu Bapak Dede AS Menjabat Kekosongan Kepala
Desa, dan pada tahun Berikutnya Kuwu Dede AS Mencalonkan Menjadi Kepala desa
Lebakherang Dan diangkat menjaidi Kepala Desa hingga Kini.untuk masa bakti 2007
s/d 2013.
PENUTUP
Demikian
rintisan sejarah kampong kita tanah kelahiran kita yang selama ini kita
rindukan, mudah-mudahan bermanpaat bagi kita untuk mengenal lebih jauh siapa
diri kita sebenarnya.
Selanjutnya
penulis mohon maaf apabila dalam penulisan riwayat ini banyak kekurangan baik
itu menyankut nama tokoh ataupun kejadian yang tidak tepat.
Selanjutnya
kami mohon partisipasi dari berbagai pihak untuk memperbaiki tulisan ini agar
dikemudian hari menjadi sejarah yang betul betul palied.
Hormat
kami
Penulis
Tidak ada komentar:
Posting Komentar